Kisah Sukses Pemuda Blitar Dirikan Kampung Jambu

Mufid Rahardja menunjukkan produk olahan Kampung Jambu Karangsono.(Foto : Team BlitarTIMES)
Mufid Rahardja menunjukkan produk olahan Kampung Jambu Karangsono.(Foto : Team BlitarTIMES)

GRESIKTIMES, BLITAR – Jambu biji adalah salah satu buah yang paling populer di Indonesia dan sangat mudah untuk ditemukan. Beberapa kandungan penting di dalam jambu biji seperti mineral dan vitamin mampu menyehatkan tubuh Anda. 

Bahkan jambu biji memiliki kandungan vitamin C yang tinggi. Jambu biji telah lama dikenal khasiatnya mengobati penyakit demam berdarah. Buah ini memiliki kandungan yang mampu meningkatkan trombosit dalam tubuh.

Banyak masyarakat percaya, selain mengobati dengan mengkonsumsi jambu biji juga dapat mencegah terjangkit DBD serta meningkatkan kesehatan karena kandungan vitamin yang ada dalam jambu biji.

Salah satu pusat jambu biji di Kabupaten Blitar adalah Kampung Jambu di Desa Karangsono, Kecamatan Kanigoro.

Berawal dari penyakit demam berdarah yang diderita pada 2011 lalu, seorang pemuda bernama Mufid Raharja (26) asal Dusun Karangsono RT.03/ RW.02, Desa Karangsono, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar mulai membudidayakan tanaman jambu biji merah. Dengan harapan ingin sembuh dan terhindar dari penyakit tersebut Mufid menanam jambu biji di halaman belakang rumahnya.

“Awalnya dulu saya sakit demam berdarah mas, namanya masih remaja baru lulus SMA pokoknya ya pengen sembuh gitu aja. Setelah menanam beberapa pohon berbuah banyak akhirnya dijual ke pedagang buah, lha ternyata laku juga. Waktu itu harganya sekitar Rp. 4000 an,” ungkap Mufid kepada BlitarTIMES.

Melihat harga jambu biji yang dibudidayakan Mufid cukup menggiurkan, pada pertengahan 2013 tetangga sekitarnya mulai banyak yang menanam di halaman rumah. Alasannya selain perawatannya yang mudah dan banyak diminati karena khasiatnya, buah jambu juga tidak mengenal musim. Saat ini harga jambu biji di kampung jambu ini dijual antara Rp 7.000 hingga Rp 8.000 perkilogramnya.

“Jadi mengajak orang itu entah apa saja pokoknya laku dan menghasilkan, orang sudah ikut-ikutan sendiri. Jambu itu tiap 2 hari sekali panen, tanpa mengenal musim asalkan memperoleh air dan sinar matahari. Jadi sangat membantu. Misalkan, tetangga sebelah itu nenek-nenek usia 75 tahun itu punya 15 pohon, itu sekarang penghasilannya bisa lebih dari 1 juta,” jelas Mufid.

Pemuda lulusan D3 Perpustakaan tersebut menambahkan, pada tahun 2014 produktivitas buah jambu biji di Karangsono semakin bertambah pesat. Untuk meningkatkan pemasaran jambu biji di Karangsono, Mufid beralih menjadi tengkulak untuk memenuhi permintaan pasar lokal maupun luar kota.

“Waktu itu saya mulai merambah ke pengepul, ngirim ke pasar-pasar, kios-kios buah, warung makan dan keluar kota. Dari tahun ke tahun, pada 2017 jambu tidak hanya di Karangsono tapi dua kecamatan yaitu Kanigoro dan Garum. Setelah itu saya tidak hanya menjual jambu saja, jadi kegiatan sehari-hari seperti pembibitan, perawatan sama pengolahan itu saya konsep dibuat brosur saya jual sebagai wisata edukasi Kampung Jambu Karangsono,” paparnya.

Berkat branding Wisata Edukasi Kampung Jambu, nama Mufid semakin dikenal. Dari yang awalnya petani dan juga tengkulak keliling ke pasar-pasar, saat ini Mufid cukup menunggu stok jambu biji dari petani para petani.

“Sekarang gak pernah kirim mas, berkat adanya branding saya dimudahkan. Jadi sekarang kios-kios terus pasar itu kesini. Dari yang awalnya ambil stok ke Ngronggo, Kediri, Semarang atau kemana saja sekarang itu ambilnya kesini,” tambahnya.

Di Kampung Jambu, pengunjung yang datang bisa memetik sendiri jambu yang sudah matang. Selain itu pengunujung juga bisa mengikuti edukasi aneka olahan berbahan dasar jambu biji. Cukup dengan merogoh kocek Rp. 15 ribu pengunjung bisa memperoleh edukasi varietas jambu dan juga mencicipi berbagai olahan seperti jus jambu, sari buah jambu, stik jambu hingga keripik daun jambu.

“Untuk menstabilkan harga kita punya konsep dengan wisata edukasi, dengan adanya branding Kampung Jambu saya menemukan 4 varian harga, yang pertama harga tengkulak, harga kios, harga outlet dan terakhir harga konsumen langsung, dengan brand tersebut saya bisa melewati rantai pemasaran ketiga-tiganya. Alhamdulillah omset saya sekarang tidak mati Rp 2 juta per hari,” pungkasnya.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]gresiktimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]gresiktimes.com | marketing[at]gresiktimes.com
Top