Penderita HIV di Tulungagung Enggan Lapor ke Petugas Kesehatan

Ilustrasi HIV
Ilustrasi HIV

GRESIKTIMES, TULUNGAGUNG – Penderita HIV/AIDS di Tulungagung masih enggan melaporkan kondisi kesehatanya ke petugas kesehatan. Buktinya dari sekitar  2.372 penderita HIV/AIDS, 70 persenya ditemukan di rumah sakit dalam keadaan yang sudah sakit parah. 

Sedang sisanya diketahui saat berkonsultasi secara sukarela dengan petugas kesehatan.

“Orang (ketahuan) sakit dulu baru ketahuan HIV/AIDS,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Tulungagung melalui Kasi P2M, Didik Eka.

Penderita HIV/AIDS di Tulungagung sendiri sudah masuk dalam kategori concentrate (terkonsentrasi). Dari 100 orang, ada 5-10 orang yang tertular HIV/AIDS.

Penduduk Tulungagung sendiri sekitar 1 juta. Artinya ada sekitar  50 ribu hingga 100 ribu masyarakat Tulungagung yang tertular HIV/AIDS.

Namun hingga saat ini masih terdeteksi sekitar 2.372 penderita. Untuk mengungkap penderita yang tersembunyi itu, pihaknya menggandeng fasilitas kesehatan swasta lembaga swadaya masyarakat (LSM).

“Dulu kita hanya mengandalkan 32 Puskesmas dan RS pemerintah, sekarang RS swasta harus bisa, klinik-klinik pratama yang bekerja sama dengan BPJS,”  terang Didik Eka.

Jika ditemukan orang dengan infeksi oportunistik datang ke faskes bisa ditentukan pasien itu HIV atau tidak.

Untuk menekan pertumbuhan virus HIV, pihaknya masih mengandalkan obat ARV (anti retroviral virus). ARV diberikan gratis bagi penderita HIV/AIDS. Indonesia masih belum bisa memproduksi ARV sendiri.

Untuk melacak penderita yang tersembunyi, pihaknya menggunakan metode notifikasi. Metode ini dengan melacak asal muasal penularan HIV yang ditularkan melalui hubungan seks.

Seorang penderita HIV/AIDS Akan ditanyai dengan siapa saja dia berhubungan seks sebelum dan sesudah tertular HIV/AIDS.

“Ketika orang sudah tertular HIV, intinya adalah konseling pasangan,” kata Didik.

Saat seseorang tertular, maka dia harus terbuka pada pasangannya. Pasangannya juga akan dites untuk mengetahui dirinya tertular atau tidak. Tak cukup sampaiya di situ, dalam kurun inkubasi yang bisa selama 10 tahun juga akan diperiksa anaknya.

“Kalau punya anak yang masih kecil, anaknya juga kita tes,” ujarnya.

Penelusuran juga akan dilakukan pada pasangan lain yang pernah berhubungan seks dengan pasien HIV/AIDS, seperti PIL atau WIL.

“Sudah melakukan (hubungan seks) dengan siapa kita gali, minimal dalam 1 bulan terakhir,” pungkas Didik Eka.

Pewarta : Joko Pramono
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Tulungagung TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]gresiktimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]gresiktimes.com | marketing[at]gresiktimes.com
Top