Saat Molotov Menjadi Berbahaya dalam Aksi, Ini Sejarahnya

Ilustrasi pendemo yang membawa bom molotov (Ist)
Ilustrasi pendemo yang membawa bom molotov (Ist)

GRESIKTIMES, MALANG – Molotov semakin populer dalam setiap aksi, seperti yang terjadi dalam demo pendukung capres dan cawapres 02 beberapa pekan lalu di Jakarta.

 Keberadaan molotov yang dipakai oleh para oknum demo paska hasil resmi KPU terkait jumlah suara nasional dua capres dan cawapres, kerap menghiasi media.
Molotov, saat ini dikenal sebagai alat perlawanan dalam berbagai aksi. Sebuah bom bakar yang terbuat dari botol yang diisi oleh bensin atau alkohol dan diberikan sumbu berupa tali atau kain. Begitulah definisi molotov dari berbagai sumber. 

Bom ini hanya memberikan efek terbakar karena sebelum dilemparkan sumbu dibakar terlebih dahulu. Saat botol pecah setelah dilempar, api merambat dan menyebar karena penguapan bensin atau alkohol di dalamnya. Daya sebar kobaran api bom ini sangat cepat dan relatif luas.

Tapi sebelum molotov dikenal sebagai alat aksi jalanan, ada sejarah panjang terkait benda itu. Bahkan, awalnya  molotov bukanlah nama sebuah benda untuk aksi perlawanan. Tapi, molotov adalah nama menteri luar negeri Uni Sovet pada masa pemerintahan Joseph Stalin. Yakni, Vyacheslav Molotov yang kerap menyebut bom-bom yang diluncurkan dalam serangan udara Uni Soviet di wilayah Finlandia sebagai "minuman untuk makanan” atau "keranjang roti molotov".  Karena Molotov biasa menyatakan bahwa Uni Soviet menjatuhkan makanan di Finlandia dalam setiap propagandanya.

Pernyataan Molotov inilah yang dijadikan bahan ejekan para pejuang Finlandia dalam upayanya menahan invasi Uni Soviet dalam perang musim dingin 30 November 1939. Keranjang roti Molotov ini pun menjadi alat perang para pejuang untuk mengusir serangan darat Uni Soviet.

Dilansir dari rbth.com, Oleg Yegorov menulis selama Perang Musim Dingin 1939-1940, Finlandia menggunakan bom bensin untuk membakar tank dan truk Uni Soviet. Botol itu diisi dengan campuran etanol, tar, dan bensin, dan dijuluki bom molotov. Dari ejekan inilah asal usul bom Molotov lahir dan dikenal sampai saat ini.
Lantas siapakah Molotov dalam sejarah bom molotov itu ?
 

Molotov (Ist)


Dari berbagai literatur yang ada, Molotov lahir pada 9 Maret 1890 di Kukarka (kini Sovetsk), Rusia, dengan nama Vyacheclav Skryabin. Nama keluarganya, Skryabin punya pertalian darah dengan komposer terkemuka Uni Soviet, Alexander Skryabin. 

Tapi, sejak akif dalam gerakan Bolshevik di tahun 1906, Vyacheclav Skryabin menggunakan nama samaran Molotov. Molotov dalam bahasa Rusia adalah Palu berasal dari kata Molot.

Perjalanannya sama dengan berbagai aktivis lain di dunia. Molotov sempat ditahan dan diasingkan selama dua tahun di wilayah utara Uni Soviet. Sekembalinya dari pengasingan, dia bergabung dengan Pravda, koran milik Bolshevik. Di sana dia bertemu Stalin dan menjadi sekretaris dewan redaksi. Dia kemudian menjadi anggota komite revolusioner militer yang merencanakan perebutan kekuasaan dalam Revolusi Bolshevik 1917.

Pada 1926, Molotov menjadi anggota penuh Politbiro Partai Komunis Uni Soviet dan selama 1928-1930 dia membantu membersihkan partai dari orang-orang anti-Stalin. Dia menjabat Menteri Luar Negeri dua periode, yaitu 1939-1949 dan 1953-1956.

Karier politik Molotov meredup setelah bertikai dengan Perdana Menteri Nikita Khrushchev pada 1957. Jabatan-jabatannya di partai dan pemerintahan dicopot. Dia disingkirkan dari Comite Central Partai Komunis Uni Soviet. Dia sempat ditugaskan sebagai duta besar di Mongolia dan utusan pada Badan Energi Atom Internasional (IAEA) di Wina.

Molotov pun sempat meramalkan terkait kekalahan Hitler yang akan mengulangi kekalahan yang sama dengan Napoleon Bonaparte. “Hal yang sama (kekalahan) akan dialami Hitler, yang bertolak dari kesombongannya telah mengobarkan perang terhadap negara kami.” ujar Molotov yang meninggal pada  8 November 1986.

Benar saja. Setelah bertahan mati-matian di Stalingrad (kini Volgograd), kota industri di selatan Uni Soviet, Jerman menyerah pada 2 Februari 1943. Setelah itu, Jerman masih terus melakukan perlawanan sampai menyerah pada 1945.

Pewarta : Dede Nana
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]gresiktimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]gresiktimes.com | marketing[at]gresiktimes.com
Top