Polemik Mutasi Direktur RSUD Kanjuruhan (6)

Dewan Pengawas RS Djanggan Sargowo : Kita akan Menghadap Wabup Malang Terkait Persoalan Ini

Prof Dr Djanggan Sargowo dari Dewas RS (kiri) saat selesai acara persiapan RSUD Kanjuruhan menjadi RS Pendidikan, Rabu (12/06/2019) (Nana)
Prof Dr Djanggan Sargowo dari Dewas RS (kiri) saat selesai acara persiapan RSUD Kanjuruhan menjadi RS Pendidikan, Rabu (12/06/2019) (Nana)

GRESIKTIMES, MALANG – Polemik terkait pergantian Direktur RSUD Kanjuruhan, Kepanjen, akhirnya bermuara juga ke Dewan Pengawas Rumah Sakit Pendidikan (Dewas RS Pendidikan). 

Polemik ini membuat ratusan karyawan RSUD Kanjuruhan membuat petisi dengan permintaan mempertahankan direktur lama (Marhendrajaya) yang diganti Abdurachman (Gus Dur).

Polemik itu semakin meruncing saat Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Malang, Nurman Ramdansyah mengatakan akan memberikan peringatan dan dimungkinkan adanya sanksi atas petisi ratusan karyawan RSUD Kanjuruhan.

Profesor Dr  Djanggan Sargowo, Ketua Dewas RS Pendidikan setelah mengisi acara Kebijakan Kementerian Kesehatan dan Penyiapan RSUD Kanjuruhan Menjadi Rumah Sakit Pendidikan di ruang pertemuan lantai 4 RSUD Kanjuruhan, mengatakan, siap untuk memfasilitasi penyelesaian persoalan sensitif tersebut.

"Saya membaca adanya hal itu dari media dan sempat mendengarkan juga persoalan tersebut tadi. Kita tentunya berharap yang terbaik atas hal itu. Rencananya kita coba menghadap kepada Pak Wabup Malang Sanusi nanti," kata Djanggan kepada MalangTIMES, Rabu (12/06/2019) setelah usai acara.

Rencana memfasilitasi persoalan tersebut, masih menurut Djanggan, akan segera dilakukan.

Dimana menurut Djanggan yang juga merupakan Ketua Program Studi Kardiovascular Fakultas Kedokteran Universitas  Brawijaya (UB) Malang, akan menyampaikan beberapa hal kepada Sanusi.

Pertama, terkait dengan persiapan RS Pendidikan dan kedua terkait pergantian direktur RSUD Kanjuruhan. 

"Nanti kita sampaikan apa yang jadi harapan karyawan RS terkait hal itu. Sehingga diharapkan nantinya juga bisa ada keputusan yang adil," ujarnya.

Dari beberapa narasumber lain yang tidak berkenan disebut namanya, proses mutasi Direktur RSUD Kanjuruhan, tidak melalui proses pelibatan dari pihak RS sendiri. 

Sehingga hal tersebut menimbulkan 'ketakutan' atas berbagai program yang sudah berjalan dan di jalur tepat pada tahun 2019 sampai 2020 di tangan Marhendrajaya akan terhenti dengan adanya kebijakan Direktur baru yaitu Gus Dur.

Djanggan pun mengatakan, sebaiknya memang untuk persoalan itu pihak RS diajak berbicara dan dimintai pendapat. 

"Akan lebih baik itu. Kita misalnya sebagai Dewas RS bisa diajak berbicara. Walaupun itu (mutasi) hak dan miliknya Bupati," ucapnya yang menambahkan fungsi Dewas RS adalah sebagai pendamping, pemberi syarat dan juga melakukan evaluasi terhadap RS.

"Jadi saya pikir perlu diajak bicara untuk kebaikan ke depannya," imbuh Djanggan yang juga menegaskan terkait pernyataan Nurman bahwa karyawan RSUD Kanjuruhan bisa dikenakan sanksi atas petisi penolakan direktur baru.

"Perlu diperhatikan, ini murni dari hati nurani. Lahir dari sistem paling bawah. Sehingga saya pikir perlu dipertimbangkan dan setelahnya didiskusikan dengan yang lain sehingga menghasilkan keputusan yang adil," ucapnya.

Dari beberapa pernyataan karyawan RSUD Kanjuruhan, dinyatakan juga bahwa mereka tidak memiliki niat membangkang keputusan Wabup Malang terkait mutasi jabatan Direktur.

"Kita tidak menolak itu. Kita hanya menyampaikan bahwa dengan pergantian direktur itu akan membuat perencanaan yang telah berjalan bisa saja terganggu. Orang baru tentunya akan perlu waktu beradaptasi lagi," ucap dr Johan Bastian.

Pun yang disampaikan perwakilan perawat RSUD Kanjuruhan, sebut saja Ahmadi yang dengan lugas menyampaikan, bahwa mereka tidak menyalahkan keputusan mutasi. 

Tapi, lanjutnya, petisi itu sebagai bentuk hubungan antara orang tua dan anak.

"Lewat Pak Marhendrajaya kita mendapatkan harapan baru. Membangun RSUD Kanjuruhan dengan semangat , bahkan kita tidak mempermasalahkan kerja lembur. Kita enjoy. Jadi kita hanya ingin mempertahankan bapak saja yang telah berhasil menyatukan kami semua," ungkapnya.

Pewarta : Dede Nana
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]gresiktimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]gresiktimes.com | marketing[at]gresiktimes.com
Top