Buka Blitar Cocoa Festival, Bupati Blitar Dorong Petani Coklat Berinovasi

Bupati Blitar Rijanto membuka Blitar Cocoa Festival 2019 di Desa Kemloko.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Bupati Blitar Rijanto membuka Blitar Cocoa Festival 2019 di Desa Kemloko.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

GRESIKTIMES, BLITAR – Masih dalam suasana Hari Jadi Blitar ke-695, Kabupaten Blitar mendapat kado istimewa dengan ditunjuk sebagai tuan rumah Festival Coklat terbesar di Jawa Timur. 

Ajang yang diberi tajuk ‘Blitar Cocoa Festival’ 2019 diikuti peserta dari lima kabupaten masing-masing Pacitan, Bodowoso, Malang, Trenggalek dan Blitar sebagai tuan rumah.

Blitar Cocoa Festival 2019 digelar atas kerjasama pemuda, petani dan kader perempuan Desa Kemloko, Delegasi Uni Eropa, Pemkab Blitar, Pemprov Jatim, dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. 

Festival ini dipusatkan di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar digelar selama dua hari, 13 dan 14 Juli 2019. 

Acara ini dibuka langsung oleh Bupati Blitar Rijanto, Sabtu (13/7/2019).

Kegiatan yang dihadiri para petani kakao se Jawa  Timur ini diisi dengan beragam kegiatan, mulai dari jalan sehat, lomba trade expo, lomba mewarnai anak, cocoa product competition for health dan kontes kambing boer tingkat nasional.

Dalam sambutannya, Bupati Blitar Rijanto, menyampaikan bahwa sebagai wilayah agraris dan memiliki perkebunan yang luas membuat Kabupaten Blitar memiliki potensi kakao yang luar biasa. 

Bupati berhatap Blitar Cocoa Festival ini akan membawa kemajuan pertanian kakao di  Kabupaten Blitar.

“Semoga adanya festival ini membuat petani semakin bersemangat menanam coklat,” ungkap Bupati Rijanto.

Lanjut di kesempatan ini Bupati juga mendorong petani untuk berinovasi. 

Orang nomor satu di Kabupaten Blitar mendorong kepada petani untuk menjual coklat dalam bentuk produk olahan agar income yang diperoleh lebih banyak dibanding menjual coklat dalam bentuk bijian.

“Saya mendorong coklat dijual dalam bentuk olahan untuk meningkatkan nilai jual,” tegasnya.

Perkembangan pertanian dan industry produk olahan coklat di Kabupaten Blitar dewasa ini sangat pesat. Ini dibuktikan dengan lahirnya wisata Edukasi Kampung Coklat di Kademangan. 

Kemudian disusul dengan lahirnya produk olahan coklat yang menembus pasar nasional yakni Coklat Cozy dan coklat gousan dari Kampung Coklat.

Meski perkembangannya sudah bagus, bupati menegaskan Pemkab Blitar tidak akan pernah berhenti memberikan fasilitasi kepada petani agar perkembangan pertanian dan industry coklat di Kabupaten Blitar ini semakin hari semakin bagus.

“Pemda akan selalu hadir di tengah-tengah petani coklat. Seperti Presiden kita bilang,Negara harus hadir di tengah-tengah masyarakat,” tegas Bupati yang dikenal peduli dan dekat dengan rakyat.

Sementara itu Ketua GPEI Jatim Isdarmawan Asrikan dalam sambutannya memaparkan pertumbuhan tanaman kakao rakyat milik petani peserta program pengembangan kakao berkelanjutan ( Sustainable Cocoa Development Programme ) di 5 kabupaten di Jawa Timur saat ini cukup bagus. 

Program tersebut dilaksanakan Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur sejak Maret 2016, dan salah satu lokasi pengembangan adalah di Kabupaten Blitar.

Selain di Kabupaten Pacitan, GPEI Jatim mengembangkan program SCDP di Kabupaten Trenggalek, Blitar, Malang dan Bondowoso, dimana luasan demplot ( kebun percontohan ) di masing-masing kabupaten 10 hektar.

Program tersebut didanai Uni Eropa, dan pelaksanaannya melibatkan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao ( Puslit Koka ) Indonesia sebagai penyedia bibit dan bimbingan teknis penanaman kakao.

Menurut Isdarmawan, keberhasilan program SCDP diharapkan bisa memotivasi Pemerintah Daerah Kabupaten guna meneruskan pengembangan kakao di masing-masing daerah, guna meningkatkan pendapatan petani.

Dijelaskannya, kebutuhan biji kakao cenderung meningkat seiring beroperasinya pabrik-pabrik pengolahan cokelat di Jatim seperti PT Cargill Indonesia dan PT. JeBe Koko. 

Kebutuhannya mencapai 200.000 ton/tahun, sedangkan pasokan dari Jatim baru sekitar 35.000 ton/tahun.

“Program kakao berkelanjutan ini akan selesai pada tahun 2020. Dan setelah selesai nanti kami akan menyerahkan program ini kepada Bapak Bupati untuk melanjutkannya,” katanya.

Ditunjuknya Desa Kemloko sebagai tuan rumah Blitar Cocoa Festival 2019 benar-benar menjadikan motivasi bagi petani Blitar untuk mengambangkan budidaya tanaman coklat kedepannya. 

Panitia Pelaksana Kegiatan Blitar Cocoa Festival, Muhamad Hamim, berharap festival ini dapat mengangkat potensi pertanian coklat di Kabupaten Blitar dan Jawa Timur.

“Festival ini kita ingin mengangkat potensi daerah. Di festival ini kita libatkan UMKM, kita juga gelar lomba masak coklat. Semoga festival ini bisa mengangkat perekonomian rakyat khususnya petani coklat. Petani coklat yang dulu kapok bertani coklat karena harganya anjlok dengan festival ini mau lagi menanam pohon coklat,” pungkasnya.(kmf)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Heryanto
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]gresiktimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]gresiktimes.com | marketing[at]gresiktimes.com
Top