Pameran Keris dan Tosan Aji

Pameran Keris dan Tosan Aji



Ribuan keris dari berbagai daerah di Nusantara dipajang dalam pameran di halaman Istana Gebang, rumah masa kecil Bung Karno Kota Blitar, Sabtu (15/6/2019). Dengan bertajuk ‘Keris Bumi Bung Karno sebagai Pesona Budaya untuk Pemersatu Nusantara’, gelaran ini diharapkan bisa mengembalikan semangat persatuan dan kebersamaan khususnya, bagi komunitas penggemar keris se Indonesia. 

Itu mengingat keris merupakan mahakarya luar biasa peninggalan budaya asli Nusantara yang diwariskan sejak zaman nenek moyang.  Untuk membuat sebilah keris, empu keris menggunakan kemampuan cipta, rasa dan karsa mereka untuk melahirkan sebilah keris pusaka. 

Ketua Paguyuban Pusaka Tosan Aji Patria Blitar Rafiq Kamarogan (50) mengatakan, selain menggelar pameran pusaka keris dan tosan aji, kegiatan ini rutin di gelar setiap tahunnya terutama di bulan Haul Bung Karno. Kali ini digelar mulai tanggal 15-19 Juni 2019 dan dimeriahkan dengan berbagai rangkaian acara.

“Antusiasme dari peserta pameran cukup banyak, terutama dari Blitar dan sekitarnya seperti Tulungagung, Kediri, Malang, Mojokerto, Madiun, trenggalek, Pati, Magetan, Kendal Pekalongan dan masih banyak lagi, yang dari solo besok masih ada yang datang,” ungkap Rafiq saat ditemui tim Blitar TIMES.

Selain itu, kegiatan Pameran Keris dan Tosan AJi di Istana Gebang Kota Blitar juga dimeriahkan dengan acara Kesenian Wayang Kulit pada malam harinya tanggal 15 juni 2019 dan kesenian Jaranan pada malam berikutnya. Ia mengungkapkan, kegiatan komunitas pencinta keris ini adalah wujud mencintai dan melestarikan warisan budaya asli Indonesia. Juga mengedukasi masyarakat luas tentang filosofi keris sebagai khasanah budaya bangsa yang harus harus dijaga dan dilestarikan keberadaannya. 

“Kami berharap dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti ini, keberadaan keris sebagai pusaka asli Nusantara tidak hanya dikenal karena mistisnya saja. Akan tetapi karena keris memiliki filosofi dan falsafah hidup yang mendalam tinggalan nenek moyang kita,” sambung Rafiq.

Mengingat keris sebagai senjata tikam khas Nusantara sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia pada tahun 2005 silam, maka tidak heran jika keris sangatlah lekat dengan kehidupan masyarakat Nusantara terutama bagi orang Jawa. 

Seorang peserta dan pemerhati keris asal Madiun, Langgeng (47), mengatakan, kegiatan pameran seperti ini merupakan momem yang sangat ditunggu-tunggu oleh pecinta keris. “Selain mencari omset dari berjualan kita datang kesini juga dalam rangka bersilaturahmi dan menjalin paseduluran dengan para pecinta keris dari berbagai daerah,” kata Langgeng.

Menurut dia, sebagai senjata tradisional asli Indonesia, keris adalah warisan budaya yang istimewa. Keris bukan hanya dilihat dari sisi magisnya saja, akan tetapi lebih kepada sebuah benda seni yang bernilai tinggi. Keindahan bentuk, kualitas bahan dan proses pembuatannya yang membutuhkan ketekunan dan keahlian tingkat tinggi membuat keris semakin istimewa. 

“Keris memang istimewa dimata orang jawa, selain menjadi falsafah hiup orang jawa, keris juga pernah menjadi wakil sinuhun saat melangsungkan pernikahan. Maka dari itu, kita ingin mengedukasi masyarakat bahwa kita punya warisan budaya yang sangat istimewa ini,” jelas Langgeng. 

Selain itu, dalam pameran tersebut, keris yang dipamerkan memiliki harga yang bervariatif. Tergantung dari jenis tangguh, dhapur, pamor dan keistimewaan pusaka itu sendiri. “Selain dipamerkan, mungkin ada orang yang tidak tau datang kesini bisa tanya, bisa pegang, kita jelaskan ini keris apa, dhapur apa, jenis apa. Harganya pun bervariatif, mulai dari yang murah dibawah satu juta sampek ada yang puluhan juta,” lungkasnya.


End of content

No more pages to load