Ilustrasi saat terjadinya tabrakan antara Iridium 33 dan Cosmos 2251. (Sumber: celestrak.com)
Ilustrasi saat terjadinya tabrakan antara Iridium 33 dan Cosmos 2251. (Sumber: celestrak.com)

Pantas saja jika sampah disebut sebagai musuh yang paling mengerikan bagi Bumi. Sampah tak hanya merusak lingkungan, namun juga berbahaya bagi nyawa mahkluk hidup di Bumi ini.

Pencemaran sampah melalui udara, air, tanah, maupun organisme lain dapat menimbulkan berbagai penyakit. Kita juga sudah terlampau sering membaca berita binatang-binatang yang tewas karena sampah plastik.

Baca Juga : Viral Video 2 Pria di Surabaya Bagi Mi Instan Berisi Uang di Tengah Pandemi Covid-19

Tetapi, ternyata bukan hanya sampah di Bumi yang membahayakan kita. Sampah antariksa juga tak kalah membahayakan! Apa sih sampah antariksa itu? Mengapa bisa membahayakan?

Dilansir dari keterangan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), sampah antariksa (space debris atau space junk) pada dasarnya adalah semua benda buatan yang mengorbit bumi namun tidak memiliki fungsi.

Benda-benda ini di antaranya adalah satelit-satelit yang sudah tidak beroperasi lagi karena sudah habis masa kerjanya dan roket-roket yang sudah menjalankan tugasnya mengorbitkan satelit. Untuk gampangnya sebut saja mereka dengan satelit dan roket bekas. Namun, sebagian besar populasi sampah antariksa ialah berupa serpihan-serpihan kecil yang berasal dari satelit dan roket yang pecah (karena meledak dan tertabrak).

Sampah antariksa juga bisa berupa benda apa saja yang terlepas di antariksa, baik yang tidak disengaja maupun disengaja. Yang tidak disengaja yakni seperti sarung tangan astronot, serpihan cat (paint flakes) dan pelindung permukaan (surface coating). 

 Yang disengaja yakni yang digolongkan mission related debris atau sampah yang sengaja dilepaskan saat satelit dibawa oleh roket ke orbit atau selama satelit beroperasi. Antara lain tutup lensa atau teleskop, baut, serta tanki bahan bakar yang sudah kosong.

Selain benda-benda yang masih mengorbit bumi, sampah antariksa juga mencakup benda-benda antariksa yang sedang mengalami reentry di atmosfer.

Lantas mengapa sampah antariksa ini berbahaya?Sejak tahun 1994, sampah antariksa telah menjadi agenda khusus di Scientific and Technical Subcommitte (STSC) PBB yang bersidang sekali setiap tahun.

Sampah antariksa berpotensi mengganggu bahkan merusak satelit (atau apapun wahana antariksa) yang masih beroperasi. Hal ini dikarenakan kecepatannya yang luar biasa sehingga sampah yang berukuran sangat kecil pun memiliki energi yang cukup besar untuk menimbulkan kerugian.

Sampah antariksa bisa bergerak dengan laju mencapai 7 km/detik (25 ribu km/jam). Akibatnya, sampah dengan berat 5 kg memiliki energi yang sebanding dengan sebuah mobil yang bergerak dengan kecepatan 100 km/jam.

Dalam sebuah tabrakan antara dua benda antariksa buatan, rata-rata laju relatif antara kedua benda adalah sekitar 11 km/detik (mendekati 40 ribu km/jam). Oleh karena itu, tabrakan dengan sampah yang berukuran cukup besar mampu menghancurleburkan sebuah satelit.

Baca Juga : Wafat Lantaran Wabah Penyakit Menular, Sahabat Rasulullah Ini Telah Dijamin Masuk Surga

Yang juga mengkhawatirkan dan menjadikan sampah antariksa akhirnya menjadi isu internasional adalah jumlahnya yang terus bertambah. Jika kita membatasi pada benda-benda berukuran 10 cm ke atas, maka jumlahnya saat ini diperkirakan telah mencapai lebih dari 34 ribu. 

Sementara jumlah benda yang ukurannya antara 1 hingga 10 cm diperkirakan sebanyak 900 ribu. Adapun benda berukuran antara 1 mm hingga 1 cm diperkirakan sebanyak 128 juta.

Jumlah sampah antariksa yang terus bertambah ini akan memicu sering terjadinya tabrakan demi tabrakan. Kejadian ini akan terus berulang sehingga terjadi reaksi berantai tabrakan benda antariksa yang dikenal dengan nama kessler syndrome. Jika kessler syndrome sampai terjadi, maka aktivitas keantariksaan bisa terhenti. Satelit-satelit yang sebelumnya beroperasi menjadi rusak atau hancur dan di sisi lain tidak ada yang berani meluncurkan satelit baru.

Nah, inilah yang akan berdampak nyata pada kehidupan umat manusia saat ini. Sebab, satelit telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita saat ini. Teknologi berbasis satelit (teknologi antariksa, space technology) ramai digunakan untuk keperluan komunikasi, navigasi, informasi cuaca dan bencana alam, penelitian, keamanan nasional, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika tak ada lagi satelit?

Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk meminimalkan gangguan sampah antariksa. Cara pertama, melalui pembuatan seperangkat pedoman mitigasi yang pembahasannya sudah dimulai sejak tahun 1980-an. Cara kedua dengan melakukan remediasi (pengobatan) pada populasi sampah antariksa. Caranya dengan mengambil sampah (khususnya di orbit rendah) yang menjadi target untuk dijatuhkan ke bumi. Dibandingkan dengan cara pertama, cara kedua ini bersifat lebih nyata dan tegas.

Sudah banyak metode yang diusulkan untuk melakukan misi di cara kedua ini, misalnya dengan menggunakan satelit khusus yang memiliki lengan robotik untuk menangkap sampah yang ditarget lalu menariknya ke atmosfer. Metode lain menggunakan jaring yang dilemparkan ke target untuk membungkusnya selanjutnya satelit yang terhubung dengan tali (tether) menariknya ke atmosfer.